This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

[Cerita] Cerita Awal Sekolah

Waktu kecil, aku didaftarin ibu di TK Muara Warta di daerah Bekasi. TK nya mbak Umu. Pas mbak Umu lulus TK itu, dia udah bisa nari, baca, nulis, nyanyi, itung-itungan dan sepertinya dia bahagia. Karena TK itu banyak pikniknya. Ada renangnya jg sih. Karena TK itu, mbak Umu bisa masuk SD Jaka Setia yg jadi favorit di Bekasi Selatan. Mbak Umu masuk kelas 1 SD, aku masuk TK kecil.
Dilihat dari namanya, udah jelas kan kalau TK itu nggak jauh-jauh dari dunia wartawan gitu. Bayarannya semahal SPP Mbak Indah di SMA Pondok Gede. Ibuku sepertinya pengen banget aku bisa sepinter mbak Umu. Jadi, dgn seragam biru putih, aku diajak ibu sekolah. Meneruskan tradisi intelektual dgn sekolah TK di Muara Warta.
Ada sepupu jg yg sekolah bareng. Seumuran. Namanya mas Ridho. Dia ompong, rambutnya jabrik, kupingnya caplang dan mirip sama pak Tile. Kita suka berantem. Setelah itu kita main nikah-nikahan di rumah. Soalnya tetanggaan juga. Tapi aku nggak mau cerita tentang mas Ridho. Aku mau cerita tentang diri sendiri. Kalau mau tau Mas Ridho, cari di FB ku, namanya Ridho Idho. Tapi nggak penting jg sih ya.
Nah, lanjut.
Ternyata, kehidupan di TK tak seindah yg aku bayangkan. Di sana banyak anak nakal. Hari pertama ku di sekolah sangat buruk. Aku nggak boleh naik ayunan. Padahal ayunan itu bagus, warna warni. Kapan lagi main ayunan kalau nggak disekolahan? Aku rebutan ayunan sama anak cowok nakal yg nggak aku kenal. Dia seenaknya aja ngeludahin bangku ayunan itu. Dia jg masih sempet meletin aku. Ayunan yg ada ludah dia itu dia kuasai. Dia duduk di ludahnya sendiri. Jadi kalau ada ungkapan "Menjilat ludah sendiri" di kasus ni adlh "Menduduki ludah sendiri." Aku nangis, Pokoknya pulang! Aku nggak mau sekolah lagi.
Jadilah, aku cuma ngerasain sehari di TK. Sekolah itu nggak enak. Aku benci sekolah.
Pastinya, ibuku prihatin. Ibu tetep bujuk buat sekolah. Aku nggak mau. Lagian, seragam biru putih itu nggak ada bagus-bagusnya. Nggak keren. Aku ngerengek minta pakai seragam merah putih. Kayak Mbak Ima dan Mbak Umu.
Aku benar-benar mendapatkan seragam merah putih ku besoknya. Ibu masukin aku ke SD Inpres. Aku senang karena tiap pagi berangkat sekolah bisa sama Mbak Ima dan Mbak Umu. Yang anterin adlh si Bapak, naik motor. Karena ada di SD yg berbeda. Yang dianterin duluan Mbak Ima ke SD Cikunir, Mbak Umu ke SD Jaka Setia, baru deh aku.
Tentu saja, aku nggak bisa baca, nulis, apalagi ngitung. Bahkan aku nggak bisa nyanyi selain lagu selamat ulang tahun. Jadi, jangan heran kalau sampai sekarang aku nggak bisa nyanyi. Itu karena aku nggak pernah TK. TK kan tempat orang belajar nyanyi dan teriak-teriak.
Setelah masuk SD, aku baru tahu, ternyata, sekolah itu menyenangkan!
Aku nggak inget tas ku isinya apa. Karena semua disiapin sama ibuku. Aku nggak ngerti sama sekali apa yg bu Guru bilang. Sama sekali. Aku bahkan nggak inget kalau di kelas aku ngapain.
Yang aku inget adalah. Aku datang pagi-pagi. Begitu duduk di kursi, kakak-kakak kelas 6 yg badannya gede-gede itu langsung pd ngerubungin aku. Cewek maupun cowok. Setelah itu, aku digendong ke kelas mereka. Iya, di gendong! Di kelas mereka itulah aku dikasih jajanan sambil di cowel-cowel pipinya. Aku suka bingung kenapa yg diperlakukan gitu cuma aku doang.
Akhirnya, setelah terjadi berulang kali. Aku baru tahu dari mereka sendiri. Aku diperlakukan kayak gitu itu karena aku ni lucu, imut, putih, tembem, dan mukaku lebih mirip boneka daripada manusia.
Oh, jadi aku imut, Aku lucu, Aku putih. Aku mirip boneka. Lalu semua orang mencintaiku. Hidup gampang banget ternyata.
Mereka yg bilang lho, bukan aku. Temen-temen mbak Indah yg anak SMA jg suka ngomong gitu. Kalau nggak percaya, tanya aja mbak Indah. Akun FB nya Indah Koen tuh.
Jadi aku tumbuh sebagai anak caper menggemaskan. Setidaknya bagi orang-orang disekitar ku.
Aku jg suka main di taman yg satu lokasi sama sekolah ku. Di sana ada bunga-bunga indah. Warna putih dan wangi. Aku suka duduk-duduk di taman itu sambil ngumpulin bunga sama temen ku, namanya Pita. Aku dan Pita merangkai bunga dgn model kayak buket bunga pernikahan. Pulangnya, aku bawa bunga itu dan main nikah-nikahan sama Mas Ridho. Pada suatu hari, aku kasihin bunga ke Mbak Ima karena Mas Ridho sama aku lagi marahan. Kita bosen main neng nang neng dong lagi. Mbak Ima bilang, "Yu, ni kan kembangnya orang mati. Elu ngambil kembang di kuburan sekolah elu ya?"
Kenapa nggak ada yg kasih tau kalau itu adlh kuburan?
Jadi tempat itu bukan taman ya?
Pertanyaan mbak Ima merusak hari-hari indah saat waktu istirahat datang. Aku nggak tahu sama sekali kalau singgasana yg biasanya aku pakai buat kursi ratu-ratuan sama Pita itu adlh makam. Sejak itu, aku nggak main di kuburan lagi. Soalnya aku lahir pas jumat kliwon. Kata mbak Ima aku gampang dimakan genderuwo.
***
Aku jg nggak punya beban sekolah. Pas ujian, aku minta ditemenin Ibuku karena aku buta huruf. Aku nggak ngerti. Ibuku harus berdiri di pintu kelas dan aku nyuruh Ibu ngisi apa yg harus diisi. Di depan guru kelas. Aku nggak tau kalau itu sebenernya nggak boleh. Tapi kalau nggak gitu, aku nangis. Ibuku sih yg cerita ini. Aku cuma inget dulu aku suka di pintu kelas nyamperin Ibuku sambil bawa buku. Ibuku nggak enak hati sama guru. Tapi dia pasti udah bilang sesuatu sama guruku, Entah minta pemaklumanm entah minta maaf, pokoknya, aku mau Ibuku tiap kali ujian. Malang sekali ibuku punya anak sepertiku.
SD Inpres itu kumuh. Lapangan upacaranya masih tanah yg becek banget kalau hujan. Padahal untk mencapai ruang kelas, harus nyebrangin lapangan dulu.
Tiap kali bapak jemput sekolah, kakak-kakak kelas suka manggil, "Ayu Ayu Ayu..." gitu. Aku jadi keki. Tapi kan aku imut, lucu, putih dan kayak boneka. Jadi aku boleh caper. Akhirnya, aku berjingkat-jingkat sok mau lari gitu di tanah yg super becek habis dihajar hujan semalaman. Tanah itu licin dan seluruh sepatuku jadi kotor.
Karena caper, aku jatuh. Seluruh tubuh! Sampai ke rambut dan muka. Aku yg selalu jadi pusat perhatian diketawain orang-orang yg ngeliat. Malu banget. Aku langsung nangis. Kejadian itu tambah menyakitkan karena bapak jg ketawa sambil nolongin aku. Perjalanan dari sekolah ke rumah aku habiskan untk menangis.
Besoknya, aku nggak mau sekolah lagi. Aku malu.
Aku lucu, aku imut, aku putih, mukaku kayak boneka dan aku jatuh! Harga diriku rasanya jg ikut ambruk.
3 hari berturut-turut aku nggak mau sekolah. Aku sekolah setelah Ibu bilang mau nemenin aku sekolah dari awal sampai akhir. Aku berangkat sekolah lagi dgn perasaan asing sama lingkungan sekitar. Aku takut semua orang masih menertawakan aku. Aku takut orang nyebut-nyebut tentang jatuhnya aku.
Ternyata nggak!
Semua orang masih suka goda-godain dgn bilang, "Ayu lucuuu... Ayu Imuuut... Ih muka bonekaaaa."
Aku nggak minder lagi.
Aku mengakhiri kelas 1 tanpa keterampilan apa-apa. Nggak bisa nulis, nggak bisa baca, nggak bisa ngitung, nggak bisa ngegambar juga. Tapi aku bisa naik kelas ke kelas 2 SD karena mesti pindah rumah ke Cibitung.

SD Inpres sekarang udah nggak ada. Udah tergusur dan jadi Tol Bekasi itu. Malang sekali nasibnya.
Akhirnya aku bisa baca juga! Kalimat pertama yg aku baca adlh sebuah iklan rokok di TV. Aku tiba-tiba membaca begitu saja tulisan di TV itu tanpa mengeja. Tulisan itu adalah, "Gudang Garam Filter, Pria Punya Selera." Itu terjadi pas menjelang kelas 3 di SDN Cibitung 2. Tentu saja, itu berkat keras Ibu yg ngajarin aku baca. Bu Kursi, guru SD kelas 2 yg sayang banget sama aku karena aku imut jg ikut berkontribusi ngajarin aku baca.
Sejak saat itu, aku bisa baca. Apapun aku baca. Kecuali baca soal cerita di pelajaran Matematika.
Aku jg pisah sama Bu Kursi dan harus tabah menghadapi Bu Endang yg galak.
Bu Endang ni tetangga satu komplek. Aku ketakutan. Aku harus pura-pura sakit tiap kali aku jenuh di sekolah. Supaya Pak Guru segera memboncengkanku dan mengantarkan ku pulang ke rumah. Supaya nggak diajar sama Bu Endang.
Aku, lagi-lagi, benci sekolah.
Kehidupan sekolahku berubah jadi tak ramah setelah itu. Apalagi saat pindah sekolah SD (lagi) ke Boyolali. Sekolah jadi sesuatu yg berat dan membosankan.
Sekarang, aku mengalami banyak hal berat daripada masa-masa sekolah itu. Dan aku pikir, Toh, pd akhirnya nanti, semuanya akan berlalu. Seperti lembaran buku yg kemarin kita baca dan kemudian ingatannya menempel di otak.
Dunia memang tak berjalan sesuai dgn kemauan kita. Aku rasa, aku hanya harus memainkan seni, tentang bagaimana caranya memilih kebahagiaan.

Tegal Parang, 22 November 2013

0 Response to "[Cerita] Cerita Awal Sekolah"

Posting Komentar

Contact

Nama

Email *

Pesan *