This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

[cinta] Cuma Bisa Omong, Maaf...

Aku mulai tak mengerti tentang pernikahan. Ada banyak perceraian di sekitarku yg membuatku merasa bahwa mencintai saja tak cukup sebagai bekal untk menikahi seseorang.

Akhir tahun 2013 lalu, seorang sahabat (dulunya kita sempat dekat dan hampir pacaran) menelepon pd pukul 1 dini hari. Dia bilang, "Mantan aku mau nikah lagi minggu depan. Padahal rasanya baru kemarin kita cerai."

Sahabatku, menikah tahun 2012 lalu. Dia menikahi janda beranak 2 yg ia cintai. belum berjalan satu tahun, mereka bercerai. Banyak alasan. Sahabatku bilang dia menceraikan istrinya karena tak tahan dgn temperamen keras istri dan berbagai masalah lainnya. Padahal, saat dulu menikahinya, dia begitu bangga dgn istrinya yg bekerja sebagai PNS di Pemda. Betapa mandiri, betapa tangguh dan segerombol alasan lainnya yg menjadikan segalanya tampak sempurna.

Hal yg awalnya dibanggakan justru jadi boomerang, Intinya, sahabatku yg pengusaha itu terganggu dgn aktivitas istrinya sebagai PNS. Itu jadi salah satu pemicu pertengkaran.

Mereka bercerai. Istri memohon rujuk karena khawatir dgn gunjingan orang sekitar yg akan membicarakan tentang kegagalan pernikahannya lagi. Sahabatku bersikeras untk dgn perceraian ini.

Walau dia yg menceraikan, hidupnya jg ikut kacau, pekerjaan jadi berantakan. Ternyata jadi yg memutuskan hubungan itu bukan sebuah kebanggaan. Bukan sebuah kelegaan. Dia bilang, ada rasa bersalah, penyesalan, dan perasaan-perasaan yg mungkin akan membunuhnya pelan-pelan.

Mantan istrinya sempat meneleponku, memberikan sudut pandangnya terhadap perceraian itu. Aku hanya memberikan dukungan. Ia khawatir dgn cerita yg berat sebelah. Ia khawatir aku memandangnya salah seperti orang-orang di sekitarnya. Aku bilang aku tak akan berpikir seperti itu. Dia harus kuat. Tapi, daripada jadi seorang motivator, aku malah merasa seperti seorang jurnalis yg sedang menginvestigasi kasus dan ada seorang narasumber yg murah hati membeberkan sudut pandangnya. Padahal aku tak menginginkan cerita. Aku hanya mendengar. Kalau akhirnya aku mendapatkan versi cerita utuh sesuai prinsip bernama cover both side, Ya itu bukan karena aku yg mengorek-orek. Apa pentingnya?

Toh, tak ada hal yg yang aku lakukan selain membesarkan hatinya seolah-olah aku orang yg besar hati. Aku bisa apa? Aku kan tak bisa memberikan opini-opini tertentu. Bukannya meredakan, aku takut malah memperunyam masalah mereka. Yang jelas, dlm hal ini. Aku merasa beruntung tak ada tuduhan kalau aku jadi orang ketiga diantara mereka. Karena sahabatku baru rutin berkomunikasi kembali saat dia bercerai. Bukan saat dia masih terikat pernikahan. Mantan istrinya tahu betul tentang itu.

Aku memutar memory kebelakang. Bukankah saat menikah mereka sama-sama jatuh cinta? Lalu kenapa cinta itu menguap begitu cepat? Toh mereka sebelumnya jg sudah pacaran.

Ah iya, sahabatku sempat mempertimbangkan aku dulunya, dgn pertanyaan, "Bagaimana kalau kita menikah?" Tapi aku terlalu kecil, 19 tahun. Aku tak mau buru-buru. Bukankah kuliah di Jakarta dan bertemu orang-orang baru itu menyenangkan? Jika aku menikah, dia bilang aku tak mungkin kuliah. Akhirnya, dia mendapatkan jg perempuan yg senyumnya bagai gulali yg usianya 2 tahun dibawahnya, 27 tahun. Itu setelah berselang lama. Bertahun-tahun kemudian. Menurutku mereka pasangan sempurna. Aku bahagia dgn pilihannya. Kalau akhirnya mereka sekarang bercerai, aku menyayangkan. Tapi kita bisa apa? Yang menjalani dan merasakan sendiri mereka. Salah kalau intervensi. Kalau aku sarankan rujuk, aku takut kalau-kalau itu bukan jalan terbaik. Aku tak tahu apa-apa tentang hidup mereka. Aku hanya berkata pd mereka untk tak saling berteriak, membuat salah satu menangis maupun memancing persoalan. Lagi-lagi, aku hanya bisa omong.

Kembali ke soal perceraian...

Ada banyak kasus perceraian lainnya di sekitarku. Yang sebelum menikah pacarannya sebentar maupun yg pacarannya lama jg mengalami perceraian. Ada yg merasa bagai beli kucing dlm karung ada yg merasa kesabarannya sudah habis.

Aku tahu cinta ideal adlh seperti yg dikatakan oleh para Filosof tentang tak henti memberi. Tak henti mencintai, tak henti mendoa. Tapi siapa yg punya cinta macam itu?

Aku berkata pd sahabatku, "Aku tahu ni berat, berbahagialah. Bukankah setelah perceraian, seharusnya kalian berhenti untk saling menyakiti / berhenti untk sekedar merasa tersakiti?"

Aku menelan ludah ku saat berkata seperti itu. Karena aku tau pasti sulit. Aku hanya menenangkan dia. Putus saat masih jadi kekasih saja sakit, apalagi saat pernikahan. Tapi aku terlalu bingung harus bicara apa? Kita kan bicara di telepon, bukankah aneh kalau tiba-tiba aku diam saja?

Ingatan tentang luka menghampiri lagi. Itu adlh alarm jiwa untk membaca Attar lagi, dan menemukan bahwa tujuanku hanyalah sampai ke Simurgh. Ini memang teori, semacam pembelaan diri, mirip dgn aktivitas memotivasi diri sendiri. Lalu, memangnya aku bisa apa? Bunuh diri? Nangis berhari-hari? Cih!

Tiba-tiba aku khawatir, bagaimana kalau suatu hari nanti aku malah tak bisa jadi istri yg baik?

Perutku tiba-tiba mual.

source : http://imgur.com, http://syaharbanu.blogspot.com, http://tribunnews.com

0 Response to "[cinta] Cuma Bisa Omong, Maaf..."

Posting Komentar

Contact

Nama

Email *

Pesan *