This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

[Philosophy] Pereda Rasa Nyeri

"Di sini tak ada obat yg bisa menyembuhkan. Ini cuma obat pereda rasa nyeri saja." Kata perempuan berjilbab putih itu singkat dan dingin. Nyaris tanpa ekspresi, diantara bau obat dan berbagai multivitamin, ia mengangsurkan 10 kapsul pereda rasa nyeri berwarna pink padaku. Menurutnya, itu pereda nyeri terbaik di tokonya.
"Jadi nanti setelah aku minum, sakitnya berkurang, tapi setelah reaksi obatnya habis, akan sakit lagi?"
"Sakitnya hilang, bukan berkurang. Tapi iya, memang nanti sakit lagi."
"Oh, begitu..."
Ia membungkusnya dgn plastik bening. Transaksi begitu singkat. Ia dpt uang sedangkan aku dpt kapsul pink yg sama sekali tak ada hubungannya dgn urusan keperempuanan.
Siang ini, dari penjaga apotek tanpa ekspresi itu, aku belajar bahwa beberapa orang hadir di dunia ni memang hanya bertugas sebagai pereda rasa nyeri. Ia memang menghilangkan nyeri-nyeri, tapi memang hanya untk sementara. Tidak bisa benar-benar menyembuhkan.
Ironisnya, aku -si pembenci perpisahan ini- jg kadang hadir di dunia orang-orang tertentu hanya sebagai pereda rasa nyeri sementara juga. Jika nyeri itu datang lagi untk mengadukan banyak hal soal ketidakadilan, keterasingan dan kesedihan-kesedihan lain, aku memberinya beberapa hal. Ia akan merasa lebih baik, melompat riang gembira kegirangan, lalu pergi. Beberapa saat kemudian ia akan datang lagi dgn nyeri yg berada di tempat yg sama. Nyeri itu timbul lagi, ditenangkan lagi, sakit lagi, ditenangkan lagi. Seperti siklus, Terus berulang. Entah sampai kapan.
Kadang aku menjadi nyeri itu sendiri dan kewalahan mencari-cari, siapa yg sedang membawa kapsulku.
Berapa aneh ketika ketenangan, kebahagiaan, kelegaan dan semangat untk terus bergerak yg disuntikkan dgn susah payah akan habis dilibas kesepian dan ketakutan-ketakutan setelahnya. Begitu saja. Terus menerus, tanpa ampun.
Dalam hal ini, rupanya pesimisme Arthur Schopenhauer berlaku.

source : http://syaharbanu.blogspot.com, http://log.viva.co.id, http://docstoc.com

0 Response to "[Philosophy] Pereda Rasa Nyeri"

Posting Komentar

Contact

Nama

Email *

Pesan *