Ia meminum kopinya yg kedua sambil berbicara tentang perjalanannya berkelana dari satu daerah ke daerah lainnya yg tampak menyenangkan. Ia menunjukkan hasil tangkapan kameranya untk melengkapi deskripsi tentang kota yg ia kunjungi dan memperagakan beberapa mimik wajah serta dialeg warga setempat yg menarik perhatiannya.
Aku mendengarkan sampai akhirnya ia bertanya apa yg bisa aku ceritakan.
Tidak banyak hal yg bisa aku ceritakan padanya selain tentang buku terakhir yg aku baca beserta tulisan-tulisan yg dipublikasikan / tulisanku yg terbenam di dlm draft blog ku. Aku merekomendasikan beberapa buku dan artikel yg menurutku cukup penting untk dibaca. Sebelum ia menganggap aku memaksanya membaca, aku buru-buru menambahkan, "Jika sempat saja."
Ia menyondongkan tubuhnya dan menatapku, "Kawan, bermimpilah sampai ke langit. Sampai bintang-bintang. Agar kalaupun kau jatuh, jatuhnya pun ke bulan."
Aku berpikir, lebih tinggi mana, bintang / bulan? Bagaimana jika bintang letaknya lebih rendah dari bulan. Siapa tahu? Aku tiba-tiba menyesal karena tak mempelajari astronomi dgn baik.
"Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita. Semesta akan berhimpun untk membuat mimpi-mimpi kita terwujud."
Aku memandangnya dan mencoba memastikan bahwa aku tak sedang berada di salah satu adegan dlm film Laskar Pelangi / Negeri 5 Menara. Aku sudah siap kalau ada kalimat "man jadda wa jadda" dlm dialog ini. Tampaknya tak ada. Kemudian aku menggeleng, "Aku tak ingin seperti itu kawan."
"Bayangkanlah, bayangkan... Jika kakimu menjejak Amerika kelak. Keliling Eropa. Melintasi Timur Tengah. Menjelajahi seluruh Afrika. Bagaimana perasaanmu jika bisa menaklukan itu semua? Bermimpilah sebanyak-banyaknya. Mumpung bermimpi gratis, janganlah tanggung-tanggung bermimpi."
Aku kini yakin sedang mendengar kawan-kawan Ikal dlm Laskar Pelangi sedang berbicara.
Ia menggeser duduknya, tersenyum dan menekuk kedua lengannya di dadanya. Tampak kedinginan. Tapi bersemangat.
"Begini, jika aku punya kehidupan yg harus aku pilih, aku ingin menjalani kehidupan dgn penuh kesadaran. Dengan mata yg waspada."
Hening sejenak. Aku melanjutkan, "Bagiku, hanya orang tertidur yg bermimpi. Aku ingin hidup dgn utuh. Merasakan dgn sadar tiap langkah kaki. Merasakan nafasku dgn penuh penerimaan, rasa syukur dan kewaspadaan. Aku pikir, itu semua tak dpt dilakukan sambil tertidur supaya mencipta mimpi."
"Bagaimana mungkin hidup tanpa mimpi? Hidup itu perlu proyeksi kawan."
"Aku masih punya harapan dan doa." Kataku cepat. Lalu aku menambahkan, "Rasanya memang hanya itu yg aku punya. Aku sedang mencoba mengasah, / barangkali aku masih pd tahap perlu mengisi amunisi. Suatu hari jika aku siap, aku akan memasuki lagaku. Bukankah hidup ni antara pertarungan dan perjuangan? Saat ni aku hanya ingin mengurus apa yg harus aku urus, membaca dan menulis sebanyak-banyaknya. Jika mungkin, aku ingin abadi lewat tulisanku. Bukan lewat potretku yg ada dimana-mana. Jika ni disebut proyeksi, inilah proyeksi ku. Tapi, aku tak ingin disebut sedang bermimpi."
"Kau tak ingin berkeliling dunia sepertiku? Berbicara di depan orang banyak dlm sebuah konferensi?"
"Aku ingin tulisanku saja yg berkeliling dunia. Atau setidaknya, ideku. Suatu hati nanti. Entah kapan."
Ia mengerutkan dahi dan memicingkan mata. Itu ekspresi khasnya saat meragukan ucapan orang lain.
"Jadi kabar yg aku dengar benar, kalau kau akhirnya tak jadi mendaftar beasiswa ke Amerika itu?"
"Tidak. Eh, maksudku, iya. Aku memang tak mendaftar." Kataku, sambil tersenyum dan menggeleng.
"Kenapa?"
"Nanti saja. Suatu hari. Kalau ingin. Kalau sudah menuntaskan banyak bacaan dan tulisan untk dibagi. Otakku belum mampu berjalan terlalu jauh apalagi berbicara di depan orang banyak tentang sedikit hal yg aku ketahui. Dan aku pikir, tiap orang punya jalannya masing-masing dlm memenuhi konsekuensi logis pengetahuannya. Oh iya, silakan bermimpi jika ingin. Aku jg akan menghargai kok."
Rintik hujan mulai ramah untk dilintasi. Ia menghabiskan kopinya dan merapatkan jaketnya. Aku lupa membawa jaket.
Ia membereskan kamera, sertifikat, paspor yg tadinya ia tunjukkan padaku sebagai perangkat bercerita. Setelah itu, aku dan dia pamit. Kita menyadari perdebatan di masa lalu tentang hidup dan masa depan masih berlanjut. Namun, diatas segalanya, kita masih berjanji untk saling mendukung satu sama lain.
Aku perhatikan, ia tak mencatat judul artikel yg aku rekomendasikan. Aku paham, ia memang tak berminat membacanya. Aku ingat, dulu ia selalu mencatat detail segala sesuatu dan bahkan mencatat hal penting dlm diskusi kita seperti layaknya sebuah notulensi rapat. Kata dia, "Aku pelupa, jadi, setidaknya aku bisa memikirkan diskusi ni saat di rumah nanti."
Aku memandang langit yg pekat sambil berpikir tentang semua pembicaraan tadi. Kehujanan sedikit bukanlah penderitaan yg berarti. Karena berkat Sapardi, hujan jadi sesuatu yg romantis. Pertemuan tadi jg membuatku jadi agak melankolis. Seperti sebuah penegasan, -ternyata ada hal lain yg tak kita sepakati lagi-.
Jika hujan memang datang tiap hari begini, semoga mereka yg terlanjur memarkir mimpinya di langit, bintang-bintang dan bulan akan tetap baik-baik saja. Semoga kamu, dan dgn segalanya, jg baik-baik saja. Sampai bertemu di persimpangan, jika memang ada persimpangan diantara kita kelak.
Mampang Prapatan, 14 Januari 2014
0 Response to "[Curhat] Ketika Memunggungi Mimpi"
Posting Komentar