This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

[Puisi] Puisi dan Hidupku Setelahnya

Aku kira aku bisa menulis puisi. Di sekolah dasar aku senang menulis puisi, teman-teman ku ikut menulis jg sejak aku menulis. Ada sebuah persaingan ketat saat itu. Kata mereka puisiku tak sebagus puisi temanku yg lain. Apalagi puisi itu ditulis dlm bahasa Inggris. Harus aku akui, puisi yg ditulis temanku itu memang bagus. Karena itu adlh karya Kahlil Ghibran. Teman-teman tak tahu temanku plagiat. Apa yg bisa kita harapkan dari anak-anak ingusan itu? Aku tahu tapi aku diam. Siapa yg mau dipermalukan? Aku tak ingin menambah musuh. Lagipula aku hanya anak pindahan yg tak punya teman saat itu.

Aku sempat mengira aku bisa menulis puisi. Curahan hati bisa jadi puisi. Kegembiraan jadi puisi, kemarahan jadi puisi, olok-olok jadi puisi. Semua orang yg membacanya bilang puisi yg aku tulis bagus. Semua orang ingin dibuatkan puisi saat pelajaran Sastra / Bahasa Indonesia. Orang meyakini aku bisa membuat puisi dan itu membuat aku yakin aku bisa membuat puisi. Puisi dan aku adlh dua hal yg tak terpisahkan.

Belakangan, aku membaca ulang puisiku dan menemukan kedangkalan yg konyol setelahnya.

Aku kira aku akan terus hidup dgn puisi.

Memang, pd suatu hari, aku patah hati dan aku menangis semalaman ditemani puisi-puisi Hafidz dan Fariddudin Attar. Aku tak punya apa-apa sebagai penghibur. Perasaanku menggelegak dan rongga dadaku kembali dipenuhi cinta. Aku tak mengizinkan dendam bersemayam. Hafidz dan Attar menuntunku ke altar kelayakan. Aku kira, saat itu aku memang diselamatkan oleh puisi.

Aku kira aku bisa menulis puisi. Aku menulis untk kekasihku lalu ia mendebatnya habis-habisan. Percuma saja banyak orang memuji karyamu tapi bukan orang yg kau cintai yg memujinya. Percuma saja dipuji banyak orang yg tak punya selera berpuisi dan bukan penikmat puisi. Aku mundur beberapa langkah. Menghitung kemungkinan terburuk. Sepertinya aku memang tak bisa menulis puisi.

Aku membuka buku-buku puisi. Dulu aku sangat menikmati Neruda, Sutardji, Chairil Anwar, Abdul Hadi WM, Sarojini Naidu, Syirazi, Rumi, Ghibran, dan lain-lain. Suatu hari aku temukan diriku di tumpukan buku-buku puisi dan membaca beberapa syairnya. Aku tak mendapatkan apa-apa dari puisi itu. Aku berusaha mencari kritik atas puisi itu di internet. Ternyata puisi itu dipuji oleh para kritikus. Aku jadi meragukan seleraku. Bahkan sekarang aku tak tahu apa-apa soal puisi. Aku tak bisa membaca dan kepekaan ku dlm memilah puisi bagus dan jelek menghilang begitu saja. Aku mencoba memaafkan diriku sendiri atas ini. Bahwa ternyata hidupku bukan lagi mesti bersama puisi.

Aku berhenti menulis puisi. Aku tak bisa menulis puisi lagi dan bahkan tak sanggup lagi membacanya. Aku seringkali mendengus keras begitu membaca puisi seseorang karena aku tak mendapatkan apa-apa. Bukan karena puisi itu jelek. Tapi aku hanya tak mengerti apapun yg tertulis. Salahku yg tak mengerti. Bukan salah penulis puisinya. Aku ingin berkata puisi itu jelek dan puisi ni bagus. Tapi aku tak punya pisau apapun untk menilainya. Lagipula, siapa aku hingga berani menilai sebuah puisi? Aku tak punya apa-apa untk mengakrabi lagi puisi. Tak punya.

Salahku adalah, selama ni aku tak berada di tengah orang yg menulis puisi sehingga kemampuanku mengolah rasa jadi tumpul. Aku tak punya selera lagi.

Bahkan aku tak lagi punya minat berkencan dgn penyair lagi. Aku merasa sedang mengkhianati puisi yg pernah sangat aku cintai. Aku sedang berusaha memaafkan diri sendiri yg terlalu mudah tersentuh dan dimanipulasi oleh penyair dgn puisi-puisinya. Aku pikir seseorang itu semulia puisinya. Aku pikir puisi adlh konsekuensi logis dari jalan pikiran pembuatnya. Aku gagal melihat bahwa kini, puisi seringkali hanya jadi lipstik untk menutupi bibir yg menghitam karna dusta dan kebobrokan.

Inilah waktu yg tepat untk mengakhiri hubunganku dgn puisi. Aku tak menjamin bahwa aku mampu tahan berjauhan dgn puisi. Tapi setidaknya, aku ingin tegas berkata bahwa jarakku dgn puisi setara jutaan tahun cahaya. Yang kau lihat setelahnya hanyalah masa lalu.

Aku patah hati pd puisi.

Maaf.

source : http://okezone.com, http://syaharbanu.blogspot.com, http://docstoc.com

0 Response to "[Puisi] Puisi dan Hidupku Setelahnya"

Posting Komentar

Contact

Nama

Email *

Pesan *