This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

[mahasiswa] Republik Ironis

"Barang siapa yg tak merasa prihatin atas suatu kejahatan maka dia tak akan mempunyai kehendak untk berbuat baik." -Imam Musa Al Kadzim


Aku, Dari lahir sampai umur 22 tahun ni memang tinggal di Indonesia. Sudah makan makanan yg sama dgn berjuta penduduk lain. Sudah sekolah di sekolah negeri dari SD-SMA. Sudah bertemu sama pekerja berpenghasilan Rp 10.000 sehari sampai pengusaha berpenghasilan 5 Milyar sebulan. Sudah ngobrol langsung sama pemerintah terkecil tingkat RT sampai ikutan kuliah umumnya Presiden. Sudah berkunjung ke pulau lain dan punya teman-teman dari kota lain. Sudah pernah masuk organisasi anti pemerintah dan sudah pernah jg kerja di parlemen pemerintah. Sudah pernah ke pelosok desa yg belum ada listrik sampai ke Ibukota yg serba modern.


Sayangnya...


Semua itu tak menjamin bahwa aku pasti tahu bagaimana caranya hidup bahagia di Republik ini. Sampai sekarang, Aku belum bisa membuat manual book / tutorial bagaimana cara tinggal di Negara ni dgn baik dan benar. Kalau ada yg tahu caranya bahagia di Republik ini, Ia bertanggung jawab jg untk memberitahu para bayi yg baru lahir cara-cara bertahan hidup di kerasnya kehidupan Negeri Jutaan pulau ini.


Di Negeri ini, semua aturan bisa saja di amandemen kapan saja tergantung selera yg mengurus. Semua masalah bisa diselesaikan dgn jalan "damai" ala polisi, jalan "tanpa masalah" ala kantor pegadaian. Kadang masalah jg bisa selesai dgn "aksi damai" ala aktivis LSM, / minimal, masalah bisa diselesaikan dgn tidur sambil mendengar lagu dangdut bejudul "perdamaian" bagi orang miskin.


Disini, tak ada jaminan bahwa segala sesuatu bisa dijamin. Kemerdekaan dan kebebasan yg konon dijamin dan tertuang di undang-undang bisa saja terlanggar dgn kepentingan-kepentingan yg kita tak tahu untk siapa karena gurita konspirasi dan intrik politik. Disini, adlh lahan dimana kita tak perlu pusing mau memberi bantuan kepada siapa karena ada banyak sekali orang terlantar, tapi kita hanya bingung mau menyalurkan lewat mana karena banyaknya orang yg tak dpt dipercaya mengelola harta orang banyak.


Sekedar menyadari realitas, di negeri macam apa kita tinggal...
Orang-orang pintar akan berkata bahwa "Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan." Tapi saat mulai menyalakan lilin, orang banyak siap meniupnya kapan saja. Nyalakan lagi, ditiup lagi. Apakah ni pesimisme / realistis? Bedanya sangat tipis kawan. Ada perjuangan karena memang memperjuangkan klaim kebenaran, ada perjuangan karena memperjuangkan egoisme masing-masing. Bedanya jg sangat tipis kawan. Mungkin benar kata pejalan suluk, dibutuhkan kejernihan jiwa dan hati yg bersih untk mengetahui kebenaran.


Untuk itu, Seminar berfikir positif digelar dimana-mana. katanya, "Mulai kebaikan dari diri sendiri." Benar kawan, itu tak salah. Bagus sekali ide itu. Tapi kenapa hanya isu-isu yg keren saja yg dilakukan? Misal himbauan untk mengikuti program Earth Hour mematikan listrik 1 jam untk hidup lebih baik. Ingatkan kita negara berkembang yg bahkan di Sumatera Utara ada 210 desa yg belum beraliran listrik. Itu baru di 1 daerah. Belum di berjuta daerah lain di bumi pertiwi. Realistiskah program internasional Earth Hour itu? Bukankah kita jauh lebih berhemat dari negara manapun yg mengikuti program itu? Kenapa justru para mahasiswa sebagai kaum intelektual yg menjadi relawan gerakan itu? Apakah pernah berfikir, proyeknya siapa yg sedang diperjuangkan?


Himbauan lainnya, "1 Man 1 Tree" yg posternya terpasang pejabat bertampang klimis menanam pohon dan orang di kota ramai-ramai tanam 1 pohon, jutaan pohon di desa yg tak terpublikasikan digunduli. Ada bayak sengketa lahan yg korbannya adlh masyarakat adat suatu negeri yg buta terhadap hukum-hukum dan dipaksa melawan mesin baja milik perusahaan besar dan pemerintahnya siap menyediakan "pasukan pengaman bermental baja", melindungi yg bayar.


Banyak orang terusir dari daerahnya tapi tak masuk media nasional yg lebih sibuk mengurusi berita milik kelas atas seperti batalnya konser artis luar negeri nan kaya raya yg menjual tiket mahal / jatuhnya pesawat mahal berisi orang-orang kaya yg beritanya terus menerus mengguyur layar kaca. Yang diperjuangkan siapa? Yang sedang dibicarakan kepentingannya siapa? Yang sedang ditutupi berita macam apa sehingga masyarakat yg rata-rata berpemikiran polos dan merasa tak berkepentingan dgn berita itu mengganti siaran layar kacanya dgn drama berintrik rumit yg berkisar antara cinta yg remeh temeh karena itu adlh satu-satunya hiburan disana. Bahagiakah generasi muda yg hidup dgn drama seperti itu sehingga Ia kelak tahu bagaimana caranya hidup di masa depan?


Seiring dgn itu, Mental cari aman mengalir dimana-mana. Jarang ada yg benar-benar mau menampakkan sikapnya. Benar kawan, kita ni sudah dewasa, sudah dpt menentukan jalannya sendiri. Tapi belum tentu yg dewasa itulah yg berpikir dgn akal sehat. Akal sehat di Negeri ni begitu mahal sampai politisi, ustad, akademisi yg seharusnya berkata dgn kata-kata yg pintar gagal menjadi ikon berfikir dgn akal sehat.


Kini, yg mengkritisi lawannya bukan yg dikritisi karena yg dikritisi sudah mengkader orang-orang dari kaum si pengkritisi sendiri sebagai tameng. Jadi ingat kata Abraham Lincoln, "Kebenaran adlh korban pertama dari peperangan."


Jadi jalani saja hidup ni dgn landasan yg berpijak pd yg benar. Yang tak relatif. Kata Max Scheler yg orang Jerman itu, semakin relatif sesuatu, maka semakin rendah nilai sesuatu itu. Kita tak akan pernah menemui kebenaran kecuali ketika kita mulai mempercayai kebenaran itu. Adakah? Pasti ada. Di Republik ni kebenaran dan kebaikan begitu langka, tapi tak mungkin kalau tak ada. Kita hanya perlu menjadi pantas untk mendapatkannya. Bagiku, disinilah letak "Mulai dari diri Sendiri" itu dimulai. Bukan lewat aktivisme instan para pemilik proyek kegiatan.


"Air mengalir sampai jauh..." Kata Gesang sang Maestro keroncong. Mengajak kita bernyanyi sebagai makanan jiwa kita yg lelah menjalani hidup dlm lantunan musiknya. Mengingatkan bahwa kadang kita harus ikut hanyut dlm perjalanannya bersama yg lainnya agar bisa merasa bahwa kita sama dan sejalan. Kadang kita harus naik perahu untk melawan arus karena ada jalan yg lebih baik lagi selain ikut arus itu. Kita tak bisa, selamanya hanyut, tak bisa selamanya melawan arus. Hidup harus harmoni, hidup harus terus berada di jalan kebaikan...

source : http://reddit.com, http://syaharbanu.blogspot.com, http://flickr.com

0 Response to "[mahasiswa] Republik Ironis"

Posting Komentar

Contact

Nama

Email *

Pesan *